Google Translator
Klik ikon goelagoela untuk detail Free Backlink

Minggu, 17 April 2011

Kasus Ulat Bulu : "Ada Apa Dengan Ambang Batas Populasi Ulat Bulu...?"

Begini sobat Netter GoelaGoela…ngelanjutin crita yang kemarin ntuh, kali ini saya mau coba kasih tulisan tentang "Ambang Batas Populasi..." Ok, kita langsung ajah ke TKP...



“Disebut hama dan penyakit tanaman karena makluk hidup yang menyandang nama itu telah berpotensi nyata dalam mengganggu usaha manusia dalam pertanian.” (www.GoelaGoela.blogspot.com , 2011)
Grafik Ambang Batas Populasi HPT
Basic-nya dari jaman dahulu kala dan masa kini, yang namanya istilah “hama dan penyakit” tanaman itu sudah ada, artinya kenapa disebut hama dan penyakit karena makluk yang menyandang nama itu telah berpotensi nyata dalam mengganggu usaha manusia dalam pertanian. Namun “ledakan populasinya” masih dalam “ambang batas populasi”. Hal ini mungkin saja karena masih adanya daya dukung alam dalam menyeimbangkan populasi-populasi dari makluk hidup dengan mekanisme “rantai makanan”.

Ilustrasi dari Rantai Makanan
Hhh…what the hell is that?! (mengerut dahi saya….menginget mata kuliah HPT…dulu lupa sekarang…???)

Bagaimana sobat NetterGoelaGoela…dengan melihat kedua gambar diatas, apabila rantai makanan dalam kondisi "normal", maka yang namanya wereng coklat, ulat bulu, belalang, tikus, fungi, bakteri dan makluk hidup lainnya (mungkin termasuk manusia juga….hahaha…) dapat dikatakan sebagai hama dan penyakit bila sudah melewati “ambang batas populasi”. Bila masih dibawah ambang batas populasi… maka hanya dikatakan “berpotensi” bisa menyebabkan serangan...it’s ok, aman terkendali…

Ambang Batas Populasi sendiri ditentukan dengan beberapa pengujian, penelitian seksama pada data-data kasus serangan Hama Penyakit Tanaman (HPT)… macem uji beberapa sample data kasus dari serangan hama dan penyakit berbanding dengan total populasi tanaman dan hasil panen (secara sederhana mewakili aspek sosial ekonomi)… jadi hitungan ambang batas populasi sendiri tidak-lah sama pada masing-masing jenis komoditas pertanian. 

Ya ya… sederhana mikirnya bila populasi HPT (menyerang tanaman) lebih dari  10% dari total populasi tanaman, maka dapat dikatakan serangan HPT, logikanya total populasi tanaman akan berkurang 10%, dan hasil panen juga menyusut 10% pula, hitungan dagangnya dikatakan kerugian ekonomis. Maka kalo ndak salah denger “Ambang Batas Populasi” HPT ada yang bilang juga “Ambang Batas Ekonomi” (cmiw)

Lantas bagaimana “musibah” serangan ulat bulu yang meluas tidak hanya pada tanaman, tapi juga mengganggu aktifitas manusia? Nah ini dia masalahnya… mengapa hal ini luput dari pemantauan? Ok lah, “ledakan populasi ulat bulu” sendiri kemungkinan besar terjadi karena beberapa faktor :

  1. Faktor Alam : Perubahan cuaca yang ekstrim, sehingga populasi dari musuh/predator alami berkurang/mati/tidak bisa berkembang karena telur tidak menetas, daya tahan hidup musuh/predator alami berkurang akibat perubahan suhu yang ekstrim, kelembaban tinggi sehingga jamur berkembang baik.
  2. Faktor Manusia : penggunaan pestisida/fungisida dalam pengendalian HPT berbahan aktif kimiawi sehingga musuh/predator alami ikut mati, penggunaan pupuk nitrogen berlebih sehingga pertumbuhan tanaman menjadi subur namun disenangi sebagai sumber makanan oleh serangga, pemilihan tanaman yang seragam sehingga memicu serangan masal dan perilaku lainnya adalah, terlambat dalam adopsi teknologi pertanian khususnya pengendalian HPT terbaru.
And what’s the point?

Bila ber-hipotesa…maka dugaan terbesar saya adalah… terputusnya rantai makanan, bila musuh/predator alami ini berkurang populasinya atau bahkan musnah, maka akan terjadi “ledakan populasi” pada  tingkat rantai makanan dibawahnya…. Ya inilah yang sekarang terjadi, “ledakan populasi ulat bulu”.
 Si Ulat Bulu yang telah Melebihi Ambang Batas Populasinya
"Trus...bagaimana? Apa yang musti diperbuat?"


Ok, nantikan investigasi saya selanjutnya...soalnya si ulat bulu sudah dikabarkan menyerang Ibu Kota kita...Jakarta..."Ulat Bulu Menyerang Jakarta ?"...


Selengkapnya - Kasus Ulat Bulu : "Ada Apa Dengan Ambang Batas Populasi Ulat Bulu...?"

Kamis, 14 April 2011

Kasus Ulat Bulu : "Serangan Ulat Bulu, Sebuah Ledakan Populasi yang Fenomenal... "

"Tak hanya manusia, Ulat Bulu pun bisa menjadi berita utama…"

Briptu Norman Kamaru - Terkenal Mendadak
Kalo saat ini dari golongan manusia yang sedeng naik daun ya Briptu Norman Kamaru dengan Joget Indianya…tapi saya ndak mbahas masalah itu, selain bosen tiap hari diberitaken, juga mosok sobat Netter GoelaGoela ndak tahu bagaimana perkembangannya? 


Dan pastinya yang saya ceritaken saat ini ya si Ulat Bulu yang pertama diberitakan merajalaila  di Probolinggo dan beberapa wilayah di Jawa Timur (kabar terakhir sampai luar jawa juga...), hal ini  bikin sibuk para petinggi pemerintah dan dinas terkait dipropinsi tersebut karena serangan dibeberapa wilayahnya, khususnya daerah sentra penghasil mangga, patut mewaspadai “serangan ulat bulu”.

Pembasmian atau Pengendalian?
Entahlah apa yang sedang mereka (pemerintah) pikirkan selama ini? Maksud saya, apa tidak ada tim khusus, macem prakiraan cuaca dari Balai Meteorologi dan Geofisika, tapi yang ini tugasnya memantau klimatologi cuaca khusus untuk pertanian, sehingga dapat memperkirakan kemungkinan yang berpotensi terjadi… mulai penurunan hasil panen komoditas tertentu, misal padi, hortikultura dan tak terkecuali memperkirakan yang menjadi headline news pertanian yaitu “ledakan populasi ulat bulu”. 


Yahh anggep saja bencana (seperti lumpur Sidoarjo itu lho…”bencana”) yang paling mudah kita taruh saja alam yang bersalah, karena cuaca yang nggak menentu, cuaca yang ekstrim… dan seterusnya…

Kalo dihubungkan dengan kajian metafisika…katanya orang yang bilang, kalo si Ulat Bulu ini merupaken kiriman balak dari Tuhan atas perbuatan manusia yang semakin hari, semakin nambah saja do’a…eh dosanya (nah masuk akal metafisika juga nih…) Ini bukanlah suatu pertumbuhan ulat yang wajar dan pasti ada yang mengkoordinir supaya bersama-sama menetas,  bersama-sama tumbuh jadi ulat… dan menyerang tanaman bersama-sama pula...


“Kelak jika manusia berusaha untuk “membasminya” maka akan ada balak lebih besar lagi…(mungkin) artinya serangan ulat bulu yang lebih berbulu dan banyak jumlahnya…alias lebih gatal bila kena kulit…”

Ulat Bulu - Terkenal ?
Ok lah… bukan mencari apa atau siapa yang salah, tapi bagaimana kita ini “manusia” bisa lebih bertindak arif dan bijaksana…apa ya namanya…kearifan lokal mungkin?”  atau lebih ke-detailnya… keseimbangan alam, so why? Penjelasannya agak membosenkan mungkin bagi sobat Netter GoelaGoela semuanya… saya pun merasa demikian, seperti kembali lagi ke bangku kuliah, mengantuk saja rasanya, tapi perlu juga saya uraiken… 

bersambung ya... (yang nulis nguantuk berat....)
Selengkapnya - Kasus Ulat Bulu : "Serangan Ulat Bulu, Sebuah Ledakan Populasi yang Fenomenal... "

Kamis, 31 Maret 2011

Mengapa Beras Organik Lebih Awet ?

"Bila berfikir untung terus, tentu akan ada yang di-korban-kan..."
Beras
Beberapa hari yang lalu... saya punya nyonya agak terkejut...  kenapa beras yang baru kami beli  dan masih dalam hitungan minggu dengan merk bungkus yang sama seperti sebelumnya, mutunya jelek... bagaimana tidak? baru pagi hari masuk Rice Cooker dan jadi nasi...disantap (masih belum gejala...) eh sorenya sudah apek bau-nya dan tengik rasa nasinya... Baaaah !!!
Dengan segala metode ritual sebelum menanak nasi, mulai dari merendam, mencuci bersih dengan air sampai lima kali ulangan (biasanya dua sampai tiga kali aja), nambah air untuk mematangkan... tetep saja bau apek, rasa tengik masih ada, ditambah teksturnya seperti bubur (karena kebanyakan air mungkin?)... ahhh... mau makan enak saja kok repot... Duh nasi lagi...

Akhirnya saya timbul pemikiran, ini mungkin mutu gabah atau berasnya...apa yang salah?

Gabah
Coba-coba beralih kami beli beras organik (ini pun termakan promo teman kantor, hehehe..) lho kok aneh, dengan cara penanganan ritual biasa sebelum menanak nasi... dan masuk Rice Cooker pada paginya... nasi disantap... sorenya... aman, no bau apek and no rasa tengik... plus teksturnya ngga lembek...    It's work !!! but... what's happen and why ya ??? Wah wah... 

Google !!! apa yang dia bisa jawab untuk pertanyaan saya ???
Teman kantor... mungkin ada promo beras organik murah ???
Teman owner warung... mungkin ada trik khusus supaya nasi ngga bau apek dan rasa tengik ???

Cukuplah info yang saya dapat... silahkan sobat Netter GoelaGoela langsung saja ke TKP untuk ngecek hasil investigasi saya dibawah ini...

Ternyata...
Beras Organik dalam Kemasan
Kandungan protein beras organik lebih rendah daripada beras non-organik, sebab dalam pemrosesan beras organik dilakukan “pemutihan” atau penyosohan secara bertingkat, sayangnya saya ngga tahu sampai berapa tingkatannya, proses inipun dapat dilakukan pada beras non-organik. Proses penyosohan inilah yang menghilangkan kulit ari beras yang kaya vitamin, mineral dan lemak termasuk anti oksidan orezanol yang dibutuhkan oleh tubuh.

Tren Pasarnya...
Pasar Los Beras
Beras dengan protein tinggi mempunyai tekstur lebih keras dan liat, dan beras dengan kadar protein rendah berasosiasi dengan rasa yang lebih enak.
  
"Tujuan dari proses penyosohan ini adalah membuang bahan-bahan yang sebetulnya berguna bagi kesehatan tubuh manusia, karena bahan-bahan inilah yang mudah teroksidasi menjadikan beras apek, tengik dan berubah warna." (Majalah Trubus No. 481 Desember 2009/XL)


Mesin Penggilingan Padi
Jadi proses penyosohan sendiri sebenarnya adalah memenuhi tren permintaan pasar, dengan menghilangkan beberapa bahan-bahan yang sebenarnya penting bagi kesehatan tubuh manusia, namun secara umum bahwa produk organik ini aman untuk dikonsumsi... 
Dengan demikian beras akan awet disimpan. 

Setuju dan ingin mencoba?
Saya jadi bisa merasakan walau lamat-lamat, bahwa masyarakat sebagai konsumen sudah banyak tuntutannya (mungkin termasuk saya juga), sampai beras pun ikut apa kata pasar... dan rupanya beberapa petani dan pengusaha penggilingan padi sudah mulai melihat peluang bisnis dengan mengikuti tren pasar ini. 
Mungkin karena biaya produksi untuk proses penyosohan bertingkat ini mahal bila dilakukan pada beras non-organik, tidak BEP dengan harga jual... makanya mereka mulai memilih grade produk... ada beda perlakuan antara beras non-organik, beras organik dan beras oplosan (0,5 Organik : 0,5 non-organik). 

Kualitas Beras
Seneng juga saya bisa tahu sendiri, bila mulai masyarakat, petani dan pengusaha yang bergerak di-sektor yang cukup strategis ini sudah mulai ber-"Agribisnis"... 

Tapi... yang mengganjal bagi saya juga, bahwa tren pasar tidak sepenuhnya baik... setidaknya dari segi kemanfaatan utama dari beras itu sendiri... selain enak dilidah kita, tapi juga bermanfaat maksimal bagi kesehatan... 

"Kenapa harus bahan-bahan pentingnya dihilangkan 
demi mengejar tren pasar semata ???
Adakah cara lain ???"

Ok... dapat jawaban awal satu masalah, tapi timbul satu masalah baru atas jawaban awal tadi... By the way, HDRAM saya sudah berat... enought for a moment... dari saya untuk sharing dengan sobat Netter GoelaGoela...

Tetaplah bersama kami, Kabar Online Goela Goela melaporkan untuk sobat Netter GoelaGoela dimanapun berada...





Selengkapnya - Mengapa Beras Organik Lebih Awet ?

Selasa, 29 Maret 2011

Sekilas Padi Organik

"Sebuah Keberhasilan akan dapat terwujud, apabila dapat Me-realita-kan
Sebuah Konsep dengan Usaha dan Do'a"  

...andai saja hari ini saya tidak pergi ke warung...
mungkin saja tulisan ini tidak segera ter-realisasi-kan...

Halo sobat Netter GoelaGoela dimanapun berada, saya hari ini ingin memberikan sedikit ilmu yang terjaring otak saya, gara-gara omongan kecil di warung kopi. 
Kadang saya atau mungkin sobat Netter GoelaGoela tidak terlalu peduli dengan beras yang kita makan tiap hari... "ya tahunya beras, jadi nasi titik!", padahal ini boleh dibilang menempuh jalan panjang... tapi sudahlah, nanti saya jadi bercerita... intinya, saya ingin berbagi info tentang "Padi Organik", "SRI" dan beberapa ulasan yang mungkin berguna untuk sobat Netter GoelaGoela semua.  
Silahken saja sobat Netter GoelaGoela menyimak yang dibawah ini... 


Definisi Padi Organik

Hasil pengolahan padi yang dibudidayakan secara organik dengan memperhatikan :
  1. Benih
  2. Lahan
  3. Air
  4. dan sarana prasarana organik non-kimiawi
  5. Filterisasi air dari sawah non-organik
Penekanan dari sistem pertanian organik adalah pada proses budidaya dan bukan hanya pada hasil akhirnya saja.

Produktivitas Padi Organik

Produktivitas Padi Organik
Produktivitas Padi Organik sangat luar biasa, terutama pada tahun ke-4, yakni sekitar kurang lebih 10 Ton/ Ha , jauh lebih tinggi hampir dua kali lipat bila dibandingkan dengan rata-rata produktivitas padi sawah di Indonesia yang hanya 5 Ton/ Ha.

Keuntungan dari kenaikan Produktivitas Sistem Pertanian Organik :
Akar Bibit Organik


  • Perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah 
  • Akar padi tumbuh lebih bagus, lurus, panjang kurang lebih 20 cm atau dua kali lebih panjang akar padi non-organik 
  • Dampak penyerapan unsur hara optimal 
  • Penerapan System of Rice Intensification (SRI) Organik 

Tanam Padi dengan SRI
”Kendala yang sangat umum terjadi pada penerapan SRI-Organik pada masyarakat petani di Indonesia adalah ”Mengubah kebiasaan dan budaya penggunaan pestisida kimiawi ke nabati”.












Dari Gabah ke Beras Organik

Gabah Organik
Pembelian dimulai sejak Gabah Kering Panen (GKP) dari petani, hal ini untuk mencegah pengoplosan padi organik dengan padi non-organik. Dari GKP diolah oleh produsen menjadi Gabah Kering Giling (GKG), dalam pengolahan ini berat gabah akan susut sekitar 20%. 

Tahap selanjutnya adalah pengolahan dari GKG menjadi beras organik dengan rendemen 30%. Perbandingannya untuk 1 kilogram beras organik, membutuhkan 3 kilogram Gabah Kering Giling (GKG).

Pasar
Pemain dalam pasar beras organik masih sedikit (2009) sedangkan permintaan domestic dan ekspor masih sangat tinggi. Secara nasional luas lahan yang digunakan untuk budidaya padi organik masih 5% dari total luas lahan 12,6 juta Ha atau sekitar 630.000 Ha. Harga beras organik dibandingkan dengan beras non-organik lebih tinggi Rp.1.000,- sampai Rp.2.000,-.

Beras Organik
Sedangkan biaya produksi beras organik dibandingkan dengan beras non-organik lebih rendah yaitu Rp. 1.400/kg untuk beras organik dan Rp. 1.700/kr untuk beras non-organik.
Produktivitas padi dengan sistem organik ini akan melonjak pada tahun ke – 4 seiring dengan perbaikan sifat unsur hara tanah


Nah bagaimana... sudah dikit tahukan perjalanan dari padi sampai jadi beras...??? tinggal beli aja tuh beras organik, trus dimasukin rice cooker, jadi nasi organik...
Paling tidak sobat Netter GoelaGoela semua pada tahu, ngga hanya makan saja...tapi juga perhatiin kesehatan, bukan promo juga sih, tapi kalo kita makan dari bahan yang awalnya baik, setidaknya tubuh kita akan jauh lebih sehat. 
Beras Organik ini mungkin salah satu solusinya, ya emang ga ngangkat diongkos juga,  harganya emang lebih mahal... dikit... tapi kesehatan... penting juga kan?


Ya wis... saya serahken semua dengen selera masing-masing saja, mau makan beras biasa atau organik yang penting dimasak dengan betul dan pastinya kita patut mendukung dengan perkembangan gerakan "Go Organic"...  dan semua yang berbau "Back To Nature". 

See You Soon...

Sumber : diolah dari berbagai sumber

Selengkapnya - Sekilas Padi Organik

Free Backlink GoelaGoela

Backlink ini berguna sekali bagi peningkatan Ratting Pengunjung Blog, pasanglah agar kita mudah mendapatkan banyak pengunjung sekaligus memperkenalkan blog kita pada dunia...
Backlink
Hitung-hitung saya nambah temen sesama blogger, kali ini saya menawarkan Free Backlink GoelaGoela untuk dipasang pada blog Netter GoelaGoela semua, makin banyak teman makin rame blog kita...

 




Silahkan copypaste code dibawah ini pada blog Netter GoelaGoela semua, ikuti langkah ini :


1. Login ke akun blog 
2. Selanjutnya ke Rancangan
3. Tambah Gadget HTML/JavaScript 
4. Copypastekan code dibawah ini :



5. Lalu Simpan dan selesai...

Kode diatas akan tampil dalam backlink Netter GoelaGoela seperti dibawah ini :

goelagoela

Ok...saya tunggu juga Kode Free Backlink Netter GoelaGoela semua...
Selengkapnya - Free Backlink GoelaGoela
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...